Oleh de Bruyere*
Kadang saya berpikir, apakah orang lain berpikir seperti yang saya pikirkan. Anggap saja Tuhan Sang Pencipta itu memang benar begitu, seperti agama-agama yakini, lantas apakah iya semua orang berkeyakinan akan Tuhan? Sepanjang yang saya tahu, agama menciptakan musuhnya sendiri, yang kemudian disebut sebagai orang kafir. Anggap saja orang tidak percaya Tuhan itu ada, saya jadi bingung apakah ketidakpercayaan bisa disebut sebuah pengalaman pribadi yang sangat personal?
Jean Hyppolite berbicara tentang fenomenologi sebagai bagian awal dari ilmu pengetahun. Katakanlah beriman atau tidak beriman pada Tuhan adalah semata pengalaman parsial manusia secara umum. Yang mengalami Tuhan menjadi beriman, dan yang tidak mengalami Tuhan menjadi kafir. Pengalaman positif dan negatif tentang Tuhan itu seperti dua sisi mata uang, menghadap ke dua arah berbeda dan saling memunggungi. Namun, keduanya mesti sama-sama guna membuat yang lain bisa dimengerti. Dua pengalaman itu saling berhutang budi satu sama lain.
Reza Bahtiar R., M.A


